Saturday, 22 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Jejak Keberkahan dalam Piring: 5 Makanan Khas Maulid Nabi yang Sarat Makna dan Tradisi

Oleh Destian August 22, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tak hanya diisi dengan pengajian dan shalawat, tetapi juga tradisi kuliner yang kaya makna. Di berbagai daerah di Indonesia, sejumlah hidangan khas disajikan untuk menyambut hari kelahiran Rasulullah, mencerminkan rasa syukur dan kecintaan umat Islam. Kelima makanan ini bukan sekadar sajian lezat, melainkan juga pembawa pesan sejarah, filosofi, dan nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Salah satu hidangan yang paling ikonik adalah bubur syura atau bubur asyura. Makanan ini dipercaya memiliki kaitan erat dengan peristiwa Nabi Nuh AS yang merayakan selamatnya bahtera dari banjir bandang dengan memasak sisa-sisa bahan makanan yang ada. Di banyak komunitas Muslim, bubur syura dimasak dan dibagikan pada tanggal 10 Muharram, namun tradisi serupa kerap dijumpai dalam perayaan Maulid, melambangkan kebersamaan dan keberkahan rezeki yang melimpah.

Selanjutnya, nasi tumpeng, yang sering diasosiasikan dengan perayaan penting di Indonesia, juga memiliki tempat istimewa dalam peringatan Maulid. Bentuk kerucut nasi yang menjulang melambangkan gunung atau puncak kesuksesan, sekaligus menjadi simbol ketauhidan dan pengabdian kepada Allah SWT. Aneka lauk pauk yang menyertainya mewakili kekayaan alam dan keragaman ciptaan Tuhan, yang patut disyukuri.

Kue apem, dengan teksturnya yang lembut dan rasa manisnya, juga menjadi favorit saat Maulid. Konon, nama ‘apem’ berasal dari bahasa Arab ‘afwun’ yang berarti ampunan. Penyajian kue ini diharapkan dapat membawa keberkahan ampunan dosa bagi yang memakannya dan memohon keridaan Allah. Tradisi ini mengingatkan umat untuk selalu introspeksi diri dan memohon ampunan.

Di beberapa daerah pesisir, ikan bakar seringkali menjadi sajian utama. Pemilihan ikan sebagai simbol kemakmuran dan rezeki laut yang melimpah. Cara membakarnya yang sederhana namun menghasilkan cita rasa otentik, mencerminkan kesederhanaan hidup yang diajarkan Rasulullah. Menyantap ikan bakar bersama keluarga dan kerabat menjadi momen berbagi kebahagiaan dan rasa syukur.

Terakhir, kolak pisang menjadi penutup manis yang tak terpisahkan dari perayaan Maulid. Perpaduan rasa manis dari gula merah, gurih santan, dan lembutnya pisang, memberikan kehangatan dan kenyamanan. Secara filosofis, kolak pisang melambangkan manisnya ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Setiap suapan menjadi pengingat akan manisnya perjuangan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Penyajian kelima makanan khas ini, serta hidangan lainnya yang bervariasi antar daerah, menunjukkan kekayaan budaya dalam merayakan Maulid Nabi. Hal ini juga menegaskan bagaimana tradisi kuliner dapat menjadi media efektif untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan, sejarah, dan kebersamaan dalam masyarakat.

Pemerintah melalui Kementerian Agama terus mendorong pelestarian tradisi keagamaan yang positif, termasuk perayaan Maulid Nabi yang sarat makna. Berbagai kegiatan resmi dan imbauan telah dikeluarkan untuk memeriahkan peringatan ini dengan semangat persatuan dan kerukunan. Masyarakat diharapkan dapat terus menjaga dan mewariskan tradisi kuliner ini kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas keislaman Indonesia.

Bagikan: Facebook X WhatsApp