Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan menyebabkan kerusakan pada enam bandara di Pulau Flores. Meskipun infrastruktur bandara mengalami dampak, otoritas penerbangan memastikan bahwa operasional penerbangan di wilayah tersebut tetap berjalan normal tanpa gangguan signifikan.
Peristiwa gempa yang berpusat di Laut Flores pada Selasa, 14 Desember 2021, pagi, menimbulkan kekhawatiran luas terkait potensi kerusakan infrastruktur vital, termasuk bandara yang menjadi gerbang utama transportasi di Flores. Laporan awal menyebutkan enam bandara di Flores terdampak oleh guncangan kuat tersebut.
Keenam bandara yang dilaporkan mengalami kerusakan antara lain Bandara Komodo di Labuan Bajo, Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya, Bandara Frans Seda di Maumere, Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, Bandara Gewayan Tana di Larantuka, dan Bandara Tardamu di Sabu Raijua. Kerusakan yang dialami bervariasi, mulai dari retakan pada bangunan hingga kerusakan pada fasilitas pendukung lainnya.
Meskipun demikian, Tim Reaksi Cepat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara segera bergerak cepat melakukan asesmen terhadap kondisi bandara-bandara tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, ditemukan bahwa kerusakan yang terjadi tidak sampai mengganggu operasional landasan pacu dan fasilitas esensial lainnya yang krusial untuk penerbangan.
Pihak Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Komodo di Labuan Bajo menyatakan bahwa meskipun ada beberapa kerusakan minor pada bangunan terminal, landasan pacu tetap aman dan siap digunakan. Hal serupa dilaporkan dari bandara-bandara lainnya, di mana tim teknis telah memastikan bahwa aspek keselamatan penerbangan tidak terkompromi.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengimbau kepada seluruh operator penerbangan dan masyarakat untuk tetap tenang. Penegasan bahwa penerbangan tetap berjalan normal menjadi penting untuk mencegah kepanikan dan menjaga kelancaran mobilitas barang maupun orang di wilayah Flores dan sekitarnya yang sangat bergantung pada transportasi udara.
Asesmen kerusakan ini merupakan bagian dari prosedur standar tanggap bencana untuk memastikan keselamatan dan keamanan operasional bandara pasca-gempa. Fokus utama adalah pada integritas landasan pacu, taxiway, apron, serta sistem navigasi dan komunikasi penerbangan.
Meskipun operasional penerbangan dipastikan normal, upaya perbaikan terhadap kerusakan minor pada fasilitas bandara akan terus dilakukan secara bertahap. Pemerintah daerah dan otoritas penerbangan terkait akan terus memantau kondisi infrastruktur bandara dan melakukan evaluasi lebih lanjut jika diperlukan.
Ke depan, pemantauan kondisi bandara dan infrastruktur pendukungnya akan terus dilakukan secara berkala, terutama mengingat wilayah NTT merupakan daerah rawan gempa. Kesiapsiagaan dan respon cepat menjadi kunci dalam mitigasi bencana serupa di masa mendatang.
