Monday, 17 August 2026
BREAKING
Teknologi

Seni Prasejarah China: Lukisan Cadas 2.000 Tahun Diduga Dilukis dengan Darah Manusia

Oleh Achmad August 17, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Sebuah penemuan arkeologis di China mengungkap misteri di balik lukisan cadas berusia sekitar 2.000 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa seni prasejarah tersebut kemungkinan besar dibuat menggunakan darah manusia, sebuah praktik yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Lukisan-lukisan purba ini ditemukan di situs Gua Tianmen, Provinsi Guizhou, China. Para peneliti dari Universitas Jilin dan Universitas Greenwich melakukan analisis mendalam terhadap pigmen yang digunakan dalam karya seni berusia milenial ini. Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Archaeological Science ini mengindikasikan adanya komponen protein yang sangat mirip dengan darah manusia.

Tim peneliti, yang dipimpin oleh Profesor Sun Shizhen dari Universitas Jilin, menggunakan teknik spektrometri massa untuk mengidentifikasi zat-zat yang terkandung dalam lukisan. “Kami menemukan bahwa pigmen merah yang digunakan pada lukisan-lukisan ini mengandung protein yang sangat cocok dengan protein yang ditemukan dalam darah manusia,” ujar Profesor Sun Shizhen dalam sebuah pernyataan.

Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa protein yang terdeteksi memiliki kemiripan yang kuat dengan hemoglobin, protein utama dalam sel darah merah. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa darah manusia menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan lukisan cadas tersebut. Selain darah, peneliti juga mendeteksi adanya unsur besi dalam pigmen merah, yang konsisten dengan kandungan zat besi dalam darah.

Lukisan-lukisan di Gua Tianmen menggambarkan adegan-adegan yang diduga berkaitan dengan ritual dan kehidupan sehari-hari masyarakat kuno di wilayah tersebut. Salah satu temuan menarik adalah penggambaran sosok manusia yang sedang menari di depan sebuah drum besar, yang diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun. Usia ini menempatkan lukisan tersebut pada periode Dinasti Han (206 SM – 220 M).

Teori lain yang diajukan oleh para peneliti adalah kemungkinan penggunaan darah hewan. Namun, hasil analisis protein menunjukkan kecocokan yang lebih tinggi dengan darah manusia. “Meskipun kami tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan penggunaan darah hewan, kesamaan protein yang terdeteksi dengan darah manusia sangat signifikan,” tambah Profesor Sun Shizhen.

Penemuan ini membuka perspektif baru mengenai teknik dan kepercayaan masyarakat prasejarah China. Penggunaan darah manusia dalam seni, jika terkonfirmasi, bisa jadi mencerminkan praktik ritualistik atau simbolis yang mendalam bagi para seniman kuno. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai makna di balik karya seni yang luar biasa ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp