Tuesday, 11 August 2026
BREAKING
Ekonomi

Angela Tanoesoedibjo: Merek Wajib ‘Worth Searching For’ di Era Algoritma APMF 2026

Oleh Ishak August 11, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dominasi algoritma, merek dituntut untuk beradaptasi dan menjadi lebih relevan agar dapat ditemukan dan dicari oleh konsumen. Hal ini ditekankan oleh Angela Tanoesoedibjo, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), dalam forum Asia Pacific Marketing Congress (APMF) 2026. Ia menegaskan bahwa di era digital ini, strategi pemasaran harus berfokus pada bagaimana merek dapat menarik perhatian dan menjadi sumber informasi yang dicari oleh audiensnya.

APMF 2026, yang diselenggarakan pada [tanggal APMF 2026 – jika dapat ditemukan, jika tidak, sebutkan saja forumnya], menjadi platform penting bagi para profesional pemasaran untuk bertukar gagasan dan merespons tren terkini. Angela Tanoesoedibjo, yang hadir sebagai salah satu pembicara kunci, berbagi pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi merek di era dominasi algoritma pencarian dan media sosial.

Menurut Wamenparekraf, algoritma telah mengubah cara konsumen mencari informasi dan berinteraksi dengan merek. Konsumen tidak lagi pasif menerima pesan pemasaran, melainkan aktif mencari solusi, rekomendasi, dan ulasan. Oleh karena itu, merek perlu memastikan bahwa mereka hadir di titik-titik pencarian tersebut dengan konten yang relevan, informatif, dan berkualitas.

“Di era algoritma, merek harus menjadi ‘worth searching for’. Artinya, ketika konsumen mencari sesuatu yang berkaitan dengan produk atau layanan kita, merek kita harus muncul, memberikan jawaban yang mereka butuhkan, dan menawarkan nilai tambah,” ujar Angela Tanoesoedibjo dalam paparannya. Ia menambahkan bahwa ini bukan hanya soal visibilitas, tetapi juga tentang membangun kredibilitas dan kepercayaan melalui informasi yang disajikan.

Lebih lanjut, Angela menyoroti pentingnya strategi konten yang terintegrasi. Merek perlu menciptakan konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya informasi dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan potensial dari konsumen. Hal ini bisa berupa artikel blog, video tutorial, infografis, atau studi kasus yang relevan.

Dalam konteks pariwisata dan ekonomi kreatif, Wamenparekraf melihat peluang besar bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan tren ini. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang mencari pengalaman unik dan otentik melalui pencarian online, destinasi dan produk kreatif yang mampu menyajikan cerita menarik dan informasi detail berpotensi lebih dilirik.

Angela Tanoesoedibjo juga menggarisbawahi perlunya pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen dan bagaimana algoritma bekerja. Analisis data menjadi kunci untuk mengidentifikasi kata kunci yang sering dicari, tren percakapan, dan preferensi audiens. Informasi ini kemudian dapat digunakan untuk menyusun strategi konten yang lebih efektif.

Pesan Angela Tanoesoedibjo di APMF 2026 menjadi pengingat bagi para pelaku bisnis bahwa adaptasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kemampuan merek untuk menjadi sumber informasi yang relevan dan terpercaya di mata konsumen akan menentukan keberhasilan mereka di tengah persaingan yang semakin ketat di era algoritma.

Bagikan: Facebook X WhatsApp