Setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Mata Juling Sedunia (World Strabismus Awareness Day) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi strabismus atau mata juling. Kondisi ini, yang ditandai dengan ketidaksejajaran kedua mata, dapat memengaruhi penglihatan dan kualitas hidup penderitanya jika tidak ditangani sejak dini. Deteksi dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti amblyopia atau mata malas.
Strabismus adalah kondisi ketika mata tidak sejajar dan mengarah ke arah yang berbeda. Satu mata mungkin melihat lurus ke depan, sementara mata lainnya mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Meskipun sering dianggap sebagai masalah estetika, strabismus dapat mengganggu fungsi penglihatan binokular, yaitu kemampuan otak untuk menggabungkan gambar dari kedua mata menjadi satu gambar tiga dimensi yang utuh.
Ada berbagai jenis strabismus yang perlu dikenali. Esotropia adalah jenis mata juling ke dalam, sementara exotropia adalah mata juling ke luar. Hipertropia berarti mata mengarah ke atas, dan hypotropia berarti mata mengarah ke bawah. Strabismus juga dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensinya (konstan atau intermiten) dan apakah kedua mata terpengaruh secara bergantian atau salah satu mata lebih dominan juling.
Gejala strabismus dapat bervariasi tergantung pada usia dan tingkat keparahan. Pada anak-anak, tanda-tanda yang paling umum adalah mata yang terlihat tidak sejajar, sering mengedipkan mata, atau memiringkan kepala saat melihat sesuatu. Orang dewasa mungkin mengalami penglihatan ganda (diplopia), mata lelah, sakit kepala, atau kesulitan membaca.
Penyebab strabismus sangat beragam. Pada anak-anak, kondisi ini seringkali bersifat bawaan atau berkembang selama masa kanak-kanak. Faktor genetik memainkan peran penting, serta masalah refraksi mata yang tidak terkoreksi seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme. Kondisi lain seperti kelainan pada otot mata, saraf, atau otak juga dapat memicu terjadinya strabismus.
Pentingnya deteksi dini strabismus tidak bisa diremehkan. Organisasi kesehatan seperti World Health Organization (WHO) menekankan bahwa banyak kasus kebutaan yang dapat dicegah dengan intervensi dini. Khususnya pada anak-anak, mata dan otak masih dalam tahap perkembangan, sehingga koreksi strabismus dan amblyopia dapat memberikan hasil yang optimal. Penundaan penanganan dapat menyebabkan perkembangan mata malas yang permanen dan hilangnya penglihatan binokular.
Penanganan strabismus sangat bergantung pada jenis, penyebab, dan tingkat keparahannya. Beberapa metode pengobatan yang umum meliputi penggunaan kacamata untuk mengoreksi kelainan refraksi, penutup mata (patching) pada mata yang lebih kuat untuk melatih mata yang lemah, serta latihan mata. Dalam beberapa kasus, operasi pada otot mata mungkin diperlukan untuk mengembalikan kesejajaran mata.
Melalui peringatan Hari Mata Juling Sedunia, para profesional kesehatan mata, seperti dokter spesialis mata dan optalmologis, mengimbau masyarakat untuk lebih proaktif memeriksakan mata, terutama pada anak-anak. Pemeriksaan mata rutin sejak dini dapat membantu mengidentifikasi strabismus dan kondisi mata lainnya sebelum menimbulkan masalah penglihatan yang lebih serius. Informasi lebih lanjut mengenai pentingnya kesehatan mata dan deteksi dini strabismus dapat diakses melalui situs resmi organisasi kesehatan mata dan rumah sakit.
