Penumpukan lemak di area perut atau perut buncit bukan sekadar masalah estetika, melainkan sinyal peringatan serius terkait peningkatan risiko penyakit metabolik, terutama diabetes tipe 2. Kondisi ini mengindikasikan adanya lemak visceral yang mengelilingi organ dalam, yang secara aktif melepaskan zat kimia berbahaya bagi tubuh.
Menurut berbagai pakar kesehatan, ukuran lingkar pinggang yang melebihi batas normal merupakan indikator kuat adanya resistensi insulin, salah satu faktor utama penyebab diabetes tipe 2. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah terus meningkat.
Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia masih menjadi perhatian. Pada tahun 2018, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 10,9%. Angka ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.
Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Siti Aminah, dalam sebuah wawancara dengan media nasional pada awal tahun 2024, menjelaskan bahwa lemak visceral yang menumpuk di perut bersifat lebih aktif secara metabolik dibandingkan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). “Lemak visceral ini mengeluarkan sitokin inflamasi yang dapat mengganggu fungsi insulin dan meningkatkan peradangan dalam tubuh, yang pada akhirnya memicu resistensi insulin dan diabetes tipe 2,” ujarnya.
Selain perut buncit, gejala lain yang patut diwaspadai meliputi rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kelelahan kronis, penglihatan kabur, serta luka yang sulit sembuh. Gejala-gejala ini seringkali muncul secara bertahap dan bisa terabaikan.
Peningkatan risiko diabetes tipe 2 akibat perut buncit sangat terkait dengan gaya hidup. Kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula, lemak jenuh, dan karbohidrat olahan menjadi kontributor utama. Faktor genetik juga berperan, namun gaya hidup tetap menjadi kunci pencegahan dan pengelolaan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan beberapa langkah pencegahan, termasuk menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, mengonsumsi makanan sehat kaya serat, serta membatasi asupan gula dan lemak tidak sehat. Menghentikan kebiasaan merokok juga sangat dianjurkan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai risiko dan langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Keterangan lebih lanjut mengenai program pencegahan diabetes nasional diharapkan akan disampaikan oleh Kementerian Kesehatan dalam pertemuan rutin yang dijadwalkan pada kuartal ketiga tahun ini.
