Thursday, 6 August 2026
BREAKING
Kesehatan

Burnout Mengikis Empati: Psikiater Ungkap Potensi Penyebab Perilaku Nakes pada Pasien BPJS

Oleh Destian August 6, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Peristiwa viral pasien BPJS yang harus menunggu delapan jam dan menerima komentar merendahkan dari tenaga kesehatan (nakes) dan dokter memicu perhatian publik. Fenomena ini mendorong psikiater untuk menganalisis kemungkinan penyebab di balik perilaku tersebut, salah satunya adalah kondisi burnout yang tidak tertangani.

Menurut psikiater, burnout yang dialami oleh tenaga medis, termasuk dokter dan nakes, dapat berdampak signifikan pada kemampuan mereka untuk berempati. Kelelahan fisik dan mental yang ekstrem akibat beban kerja berlebih, stres kronis, dan kurangnya dukungan dapat mengikis rasa peduli dan kesabaran.

β€œKetika seorang tenaga kesehatan mengalami burnout, kemampuan mereka untuk terhubung secara emosional dengan pasien akan menurun drastis. Mereka mungkin menjadi lebih mudah frustrasi, menarik diri, atau bahkan menunjukkan sikap defensif sebagai mekanisme perlindungan diri,” jelas seorang psikiater dalam sebuah diskusi. Hal ini bisa termanifestasi dalam bentuk komentar yang kurang sensitif atau tindakan yang terkesan acuh tak acuh terhadap penderitaan pasien.

Psikiater tersebut menekankan bahwa burnout bukanlah sekadar rasa lelah biasa, melainkan sebuah sindrom kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Dalam konteks dunia medis, depersonalisasi dapat berarti melihat pasien sebagai objek atau beban, bukan sebagai individu yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap burnout pada tenaga medis sangat kompleks. Selain tuntutan pekerjaan yang tinggi, kurangnya sumber daya, jam kerja yang panjang, serta paparan terhadap situasi traumatis pasien juga menjadi pemicu utama. Ketika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi yang tepat, seperti dukungan psikologis atau pengaturan beban kerja, dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan hubungan antarmanusia dalam lingkungan kesehatan bisa sangat merusak.

Oleh karena itu, penting bagi institusi kesehatan untuk tidak hanya fokus pada penanganan pasien, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan mental para tenaga kesehatannya. Intervensi dini dan program dukungan yang berkelanjutan diharapkan dapat mencegah terjadinya burnout dan menjaga agar empati tetap menjadi nilai fundamental dalam pelayanan kesehatan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp