Banyak wanita meyakini bahwa membersihkan vagina secara rutin dengan berbagai produk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim. Namun, praktik ini justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan baru. Para ahli kesehatan sepakat bahwa vagina memiliki mekanisme pembersihan alami yang efektif, dan penggunaan sabun atau cairan pembersih justru dapat mengganggu keseimbangan flora normalnya.
Menurut Dr. Gita Pratama, Sp.OG, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan, vagina memiliki kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri melalui sekresi alami. Proses ini dibantu oleh keseimbangan bakteri baik (Lactobacillus) yang menciptakan lingkungan asam. Lingkungan asam ini sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri jahat dan jamur yang dapat menyebabkan infeksi.
Praktik yang dikenal sebagai vaginal douching atau membilas vagina dengan cairan, sering kali menggunakan sabun, antiseptik, atau campuran air dan cuka, justru dapat menghilangkan bakteri baik tersebut. Akibatnya, keseimbangan pH alami vagina menjadi terganggu, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi seperti vaginosis bakterialis atau infeksi jamur.
Dampak negatif dari douching tidak hanya terbatas pada peningkatan risiko infeksi. Organisasi kesehatan terkemuka seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) telah lama menyuarakan penolakan terhadap praktik ini. Studi yang dipublikasikan di jurnal medis juga menunjukkan kaitan antara douching dengan risiko penyakit radang panggul (PID) yang lebih tinggi, yang dapat berujung pada masalah kesuburan dan kehamilan ektopik.
Para ahli menekankan bahwa membersihkan area genital eksternal, yaitu vulva, sudah cukup untuk menjaga kebersihan. Cukup gunakan air bersih dan sabun lembut yang tidak mengandung pewangi atau bahan kimia keras. Bagian dalam vagina tidak memerlukan pembersihan tambahan karena flora normalnya sudah bekerja secara efisien.
Jika seorang wanita mengalami gejala keputihan yang tidak normal, gatal, bau tidak sedap, atau rasa tidak nyaman di area vagina, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi indikasi adanya infeksi atau kondisi lain yang memerlukan diagnosis dan penanganan medis yang tepat, bukan sekadar membersihkan secara mandiri.
Penting bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan yang akurat dari sumber terpercaya, seperti lembaga kesehatan resmi dan profesional medis. Edukasi mengenai fungsi alami tubuh dan cara perawatan organ intim yang benar dapat membantu mencegah kesalahpahaman dan praktik yang berpotensi membahayakan.
Organisasi seperti ACOG secara berkala mengeluarkan panduan kesehatan reproduksi. Pemantauan terhadap rekomendasi terbaru dari badan-badan kesehatan global dan nasional akan menjadi langkah penting untuk memastikan praktik perawatan kesehatan kewanitaan tetap berbasis bukti ilmiah.
