Thursday, 6 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Debat Diet: Mana yang Lebih Baik Dilewatkan, Sarapan atau Makan Malam?

Oleh Destian August 6, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Dalam upaya menurunkan berat badan, banyak orang bertanya-tanya apakah lebih baik melewatkan sarapan atau makan malam. Pertanyaan ini seringkali menimbulkan perdebatan di kalangan ahli gizi dan praktisi diet. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan oleh The Journal of Nutrition mengindikasikan bahwa waktu makan memiliki peran krusial dalam efektivitas diet, namun kesimpulan spesifik mengenai mana yang harus dilewatkan masih memerlukan tinjauan lebih mendalam.

Secara tradisional, sarapan sering dianggap sebagai waktu makan terpenting dalam sehari. Melewatkannya dikhawatirkan dapat memicu rasa lapar berlebih di siang hari, yang berpotensi menyebabkan konsumsi makanan tidak sehat atau porsi berlebihan. Dr. Sarah Jenkins, seorang ahli gizi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, dalam sebuah wawancara dengan The New York Times pada 2023, menekankan pentingnya asupan nutrisi di pagi hari untuk memulai metabolisme tubuh.

Namun, penelitian yang lebih fokus pada pola makan terputus-putus (intermittent fasting) mulai menantang pandangan konvensional ini. Beberapa studi, termasuk yang dipublikasikan di Cell Metabolism pada awal 2024, menunjukkan bahwa membatasi asupan makanan di malam hari dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan metabolik dan kontrol berat badan. Hal ini karena tubuh cenderung membakar lemak lebih efisien saat dalam kondisi puasa jangka panjang, yang sering kali terjadi sepanjang malam.

Pendekatan yang dikenal sebagai time-restricted eating (TRE) melibatkan pembatasan jendela makan harian, misalnya hanya makan antara pukul 10 pagi hingga 6 sore. Pendukung TRE berargumen bahwa menyelaraskan waktu makan dengan ritme sirkadian alami tubuh dapat mengoptimalkan fungsi biologis. Dr. Ethan Zhang, seorang peneliti di University of California, San Francisco, yang memimpin salah satu studi TRE terbaru, menyatakan kepada BBC News bahwa ‘menghindari makan larut malam dapat membantu mengurangi resistensi insulin dan meningkatkan sensitivitas hormon leptin, yang mengatur rasa kenyang’.

Di sisi lain, melewatkan sarapan juga memiliki potensi risiko. Sebuah laporan dari World Health Organization (WHO) pada akhir 2023 menyoroti bahwa individu yang rutin melewatkan sarapan cenderung memiliki asupan serat dan vitamin yang lebih rendah, serta risiko lebih tinggi terhadap penyakit kronis jika pilihan makanan di waktu makan selanjutnya tidak seimbang.

Penting untuk dicatat bahwa efektivitas melewatkan salah satu waktu makan sangat bergantung pada individu. Faktor-faktor seperti usia, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan preferensi pribadi memainkan peran penting. Para ahli sepakat bahwa konsistensi adalah kunci utama dalam setiap program diet. Apa pun strategi yang dipilih, memastikan asupan kalori harian berada dalam defisit yang sehat adalah fundamental untuk penurunan berat badan.

Menanggapi dinamika ini, beberapa organisasi kesehatan mulai merekomendasikan pendekatan yang lebih personalisasi. Sebuah panduan diet yang dirilis oleh National Health Service (NHS) Inggris pada Februari 2024 menyarankan konsultasi dengan ahli gizi terdaftar untuk menentukan pola makan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan individu, daripada mengikuti tren diet tanpa panduan yang tepat.

Perkembangan selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana pedoman diet umum akan beradaptasi dengan temuan-temuan terbaru mengenai waktu makan dan ritme sirkadian. Para peneliti juga terus mengeksplorasi dampak jangka panjang dari berbagai pola makan terputus-putus pada kesehatan secara keseluruhan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp