Kadar testosteron yang rendah pada pria tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat secara signifikan mengganggu kemampuan fokus, konsentrasi, dan performa kerja secara keseluruhan. Kondisi ini, yang seringkali tidak disadari, dapat memicu penurunan produktivitas dan memengaruhi kualitas pekerjaan.
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology, testosteron memainkan peran penting dalam fungsi kognitif, termasuk memori kerja, perhatian, dan pemrosesan informasi. Penurunan kadar hormon ini dapat menyebabkan gejala seperti kelelahan kronis, penurunan motivasi, dan kesulitan dalam mengambil keputusan, yang semuanya berujung pada hambatan dalam lingkungan kerja.
Dr. Budi Santoso, seorang endokrinolog di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), menjelaskan bahwa gejala testosteron rendah bisa bervariasi. “Selain penurunan libido dan disfungsi ereksi, pria dengan testosteron rendah sering mengeluhkan sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan merasa kurang berenergi. Ini tentu saja akan berdampak langsung pada performa mereka di tempat kerja,” ujar Dr. Budi dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com pada 28 Juli 2023.
Penelitian lain yang diterbitkan oleh The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism pada awal tahun 2023 mengaitkan kadar testosteron yang rendah dengan peningkatan risiko kesalahan kerja dan penurunan kemampuan pemecahan masalah. Para peneliti menemukan bahwa pria dengan kadar testosteron di bawah batas normal cenderung menunjukkan respons yang lebih lambat terhadap tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian dan analisis.
Penyebab testosteron rendah sangat beragam, mulai dari faktor usia, obesitas, diabetes tipe 2, hingga stres kronis. Selain itu, kondisi medis tertentu seperti tumor hipofisis atau cedera pada testis juga dapat menjadi pemicunya. Identifikasi dini melalui pemeriksaan darah menjadi kunci untuk penanganan yang tepat.
Penting bagi perusahaan untuk mulai menyadari dampak kesehatan hormon pada produktivitas karyawan. “Kami melihat ada tren peningkatan keluhan terkait fokus dan energi dari karyawan pria usia produktif. Diskusi dengan ahli medis menunjukkan bahwa testosteron rendah bisa menjadi salah satu faktornya,” kata Ani Wijaya, Manajer Sumber Daya Manusia di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta, kepada Bisnis Indonesia pada 29 Juli 2023.
Penanganan testosteron rendah biasanya melibatkan terapi penggantian testosteron (TRT) di bawah pengawasan medis, serta perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan ideal, berolahraga teratur, dan mengelola stres. Para ahli menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang sesuai, agar performa kerja dan kualitas hidup dapat kembali optimal.
Langkah selanjutnya yang perlu dipantau adalah bagaimana kesadaran akan isu ini dapat diintegrasikan ke dalam program kesehatan kerja di berbagai perusahaan, serta ketersediaan fasilitas pemeriksaan yang mudah diakses bagi karyawan yang membutuhkan.
