Monday, 3 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Atap Murah Berujung Maut: Bahaya Kanker Akibat Serat Asbes yang Mengintai

Oleh Destian August 3, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Banyak masyarakat Indonesia masih menggunakan asbes sebagai material atap rumah karena harganya yang terjangkau. Namun, di balik keunggulan ekonomisnya, asbes menyimpan ancaman mematikan yang dapat menyebabkan penyakit serius, bahkan kanker paru-paru dan mesothelioma. Serat-serat halus asbes yang terlepas ke udara dapat terhirup dan mengendap di paru-paru, memicu peradangan kronis dan kerusakan sel yang berujung pada penyakit ganas.

Asbes, yang secara ilmiah dikenal sebagai mineral silikat yang terbentuk secara alami, memiliki sifat tahan panas, isolasi listrik, dan kekuatan tarik yang tinggi. Sifat-sifat inilah yang membuatnya populer sebagai bahan bangunan selama bertahun-tahun, terutama untuk atap, dinding, dan insulasi. Di Indonesia, penggunaan asbes sempat merajalela karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan material atap modern lainnya, menjadikannya pilihan favorit bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menyatakan bahwa semua jenis asbes bersifat karsinogenik bagi manusia. Ketika material yang mengandung asbes rusak, lapuk, atau dipotong, serat-serat mikroskopisnya dapat terlepas ke udara. Serat ini sangat ringan dan dapat bertahan lama di udara, siap untuk terhirup oleh siapa saja di sekitarnya.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, paparan serat asbes dapat menyebabkan berbagai penyakit terkait asbes (asbestosis), seperti penebalan selaput paru (pleural thickening), plak pleura, dan yang paling berbahaya adalah kanker paru-paru serta mesothelioma, sejenis kanker langka yang menyerang lapisan paru-paru, perut, atau jantung.

Proses berkembangnya penyakit akibat asbes umumnya memakan waktu lama, bisa puluhan tahun setelah paparan pertama terjadi. Hal ini membuat banyak penderita tidak menyadari bahaya yang mereka alami hingga penyakit sudah mencapai stadium lanjut dan sulit diobati. Gejala awal seringkali mirip dengan penyakit pernapasan lain, seperti batuk kronis, sesak napas, dan nyeri dada, yang seringkali diabaikan.

Meskipun risikonya telah diketahui secara luas, pelarangan total penggunaan asbes di Indonesia masih menjadi perdebatan. Hingga saat ini, belum ada undang-undang yang secara spesifik melarang produksi, impor, dan penggunaan asbes di Indonesia. Kementerian Perindustrian pernah menyatakan bahwa pelarangan asbes memerlukan kajian mendalam dan persiapan industri pengganti yang memadai, sebagaimana disampaikan dalam beberapa kesempatan.

Di sisi lain, berbagai organisasi masyarakat sipil dan kesehatan terus mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah tegas dalam melarang penggunaan asbes. Koalisi Peduli Asbes Indonesia, misalnya, secara konsisten menyuarakan pentingnya perlindungan kesehatan masyarakat dari ancaman asbes dan mendesak pemerintah untuk mengikuti jejak negara-negara lain yang telah melarang penggunaan material ini.

Beberapa negara di dunia, termasuk Uni Eropa, Australia, dan Kanada, telah sepenuhnya melarang penggunaan asbes sejak lama karena bukti ilmiah yang kuat mengenai bahayanya. Indonesia, sebagai salah satu negara yang masih menggunakan asbes, menghadapi tantangan besar dalam mengelola risiko kesehatan jangka panjang bagi jutaan warganya.

Langkah konkret yang dapat diambil masyarakat saat ini adalah meningkatkan kesadaran akan bahaya asbes dan mulai beralih ke material atap alternatif yang lebih aman. Pemerintah diharapkan dapat segera menetapkan kebijakan yang lebih tegas dan memberikan solusi bagi industri serta masyarakat untuk transisi dari penggunaan asbes, demi melindungi kesehatan generasi mendatang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp