Wednesday, 9 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Warga Terdampak Abu Vulkanik: 7 Tips Ampuh Atasi Tenggorokan Gatal

Oleh Destian September 8, 2026 1 day lalu 0 komentar

Paparan abu vulkanik pascaerupsi dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, salah satunya adalah sensasi tenggorokan gatal. Kondisi ini umum dialami masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak atau yang beraktivitas di area terpapar abu. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut, mulai dari menjaga hidrasi hingga penggunaan masker.

Fenomena abu vulkanik bukan hal baru di Indonesia, negara yang dilalui cincin api Pasifik. Erupsi gunung berapi seperti yang terjadi pada Gunung Semeru di Jawa Timur pada akhir 2022 lalu, atau aktivitas gunung Merapi yang terus dipantau, kerap menyisakan dampak abu yang meluas. Abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mengiritasi selaput lendir tenggorokan, memicu rasa gatal dan tidak nyaman.

Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi tenggorokan gatal adalah dengan menjaga asupan cairan tubuh. Minum air putih hangat secara teratur dapat membantu melembapkan tenggorokan yang kering dan mengurangi iritasi. Teh herbal hangat, seperti teh chamomile atau peppermint, juga dapat memberikan efek menenangkan.

Berkumur dengan air garam hangat juga disarankan oleh sejumlah profesional kesehatan. Larutan air garam dapat membantu membersihkan tenggorokan dari partikel abu yang menempel serta mengurangi peradangan. Campurkan setengah sendok teh garam ke dalam segelas air hangat, lalu gunakan untuk berkumur beberapa kali sehari.

Menghirup uap air hangat juga bisa menjadi solusi. Mandi air hangat atau menghirup uap dari baskom berisi air panas (dengan hati-hati agar tidak terbakar) dapat membantu melembapkan saluran pernapasan. Anda juga dapat menambahkan beberapa tetes minyak esensial seperti eucalyptus atau peppermint untuk efek yang lebih menyegarkan, sebagaimana disarankan oleh para ahli kesehatan pernapasan.

Penggunaan masker, terutama masker N95 atau masker kain berlapis, sangat krusial saat beraktivitas di luar ruangan di tengah paparan abu vulkanik. Masker berfungsi sebagai penghalang fisik yang mencegah partikel abu terhirup masuk ke saluran pernapasan, termasuk tenggorokan. Hal ini ditekankan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam berbagai imbauannya saat terjadi erupsi.

Hindari berbicara terlalu banyak atau berteriak, karena hal ini dapat memperparah iritasi pada tenggorokan. Mengistirahatkan suara dapat memberikan kesempatan bagi selaput lendir untuk pulih. Selain itu, menjaga kelembapan udara di dalam ruangan dengan menggunakan pelembap udara (humidifier) juga dapat membantu meringankan gejala tenggorokan gatal.

Jika gejala tidak membaik atau disertai dengan keluhan lain seperti sesak napas, demam, atau nyeri dada, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Dokter mungkin akan memberikan resep obat pereda nyeri atau obat lain yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pemerintah daerah terdampak erupsi gunung berapi biasanya akan terus memberikan informasi terkait status gunung, arah angin sebaran abu, dan imbauan kesehatan kepada masyarakat. Pemantauan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga terkait lainnya menjadi penting untuk kesiapsiagaan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp