Dokter anak mengingatkan orang tua untuk waspada terhadap dampak abu vulkanik terhadap kesehatan pernapasan anak-anak. Paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gejala iritasi pada saluran pernapasan, mulai dari batuk hingga sesak napas, yang memerlukan perhatian medis segera. Fenomena ini menjadi sorotan seiring dengan aktivitas vulkanik yang meningkat di beberapa wilayah Indonesia.
Menurut Dr. Nastiti Kusumorini, Sp.A(K), dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), abu vulkanik yang berukuran sangat halus mampu masuk jauh ke dalam paru-paru. Partikel-partikel ini bersifat abrasif dan dapat menyebabkan peradangan pada saluran napas. Anak-anak dianggap lebih rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.
Gejala iritasi pernapasan yang umum muncul pada anak akibat paparan abu vulkanik meliputi batuk-batuk kering, bersin-bersin, pilek, nyeri tenggorokan, hingga mata merah dan gatal. Dalam kasus yang lebih parah, anak dapat mengalami kesulitan bernapas, mengi (suara napas seperti siulan), dan dada terasa sesak. Orang tua perlu segera memeriksakan anak jika gejala-gejala ini muncul setelah terpapar lingkungan yang terkontaminasi abu vulkanik.
Dr. Nastiti menekankan pentingnya pencegahan, terutama bagi anak-anak yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma atau bronkitis. Penggunaan masker yang tepat saat beraktivitas di luar ruangan di area terdampak erupsi sangat dianjurkan. Masker N95 atau masker kain berlapis dianggap efektif untuk menyaring partikel halus abu vulkanik.
Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan rumah juga krusial. Membersihkan rumah secara rutin dari debu abu vulkanik dapat mengurangi risiko paparan bagi anak. Menutup jendela dan pintu saat erupsi terjadi juga dapat membantu mencegah abu masuk ke dalam ruangan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara rutin mengeluarkan imbauan dan panduan penanganan dampak abu vulkanik. Imbauan ini mencakup langkah-langkah perlindungan diri, penyediaan masker, hingga penanganan medis bagi warga yang terdampak, termasuk anak-anak.
Para ahli kesehatan juga menyarankan agar anak-anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak dibawa keluar rumah jika kondisi udara terpapar abu vulkanik. Jika terpaksa, penggunaan masker khusus bayi atau gendongan tertutup dapat menjadi alternatif, namun tetap dengan pengawasan ketat.
Penting bagi orang tua untuk terus memantau perkembangan informasi dari otoritas terkait mengenai tingkat aktivitas vulkanik dan sebaran abu. Kesiapsiagaan dan tindakan pencegahan yang tepat dapat meminimalkan risiko kesehatan pernapasan pada anak-anak akibat bencana alam ini.
