JAKARTA – PT Pertamina (Persero) angkat bicara mengenai nasib harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka USD100 per barel. Pertamina menegaskan bahwa harga BBM subsidi saat ini masih tetap stabil dan belum ada rencana penyesuaian.
Kepastian ini disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, dalam berbagai kesempatan. Ia menjelaskan bahwa stabilitas harga BBM subsidi merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Lonjakan harga minyak dunia, yang salah satunya dipicu oleh ketegangan geopolitik dan pemulihan ekonomi pasca-pandemi, memang menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan harga BBM. Kenaikan harga minyak mentah secara langsung berpotensi membebani perusahaan penyalur BBM seperti Pertamina, terutama untuk produk yang disubsidi oleh negara.
Namun, Nicke Widyawati menekankan bahwa mekanisme penetapan harga BBM subsidi berbeda dengan BBM nonsubsidi. Harga BBM subsidi sudah diatur oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal dan subsidi yang disalurkan, sehingga tidak serta-merta mengikuti pergerakan harga komoditas minyak di pasar internasional secara harian.
Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Keuangan, memiliki peran kunci dalam menentukan besaran subsidi yang perlu digelontorkan. Anggaran subsidi BBM dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ekonomi.
Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertugas menyalurkan BBM sesuai dengan penugasan dari pemerintah. Oleh karena itu, perusahaan akan terus beroperasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah terkait harga BBM subsidi.
Pernyataan ini disambut baik oleh berbagai kalangan, mengingat inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga energi dapat berdampak luas pada sektor ekonomi lainnya, termasuk biaya produksi dan daya beli masyarakat. Stabilitas harga BBM subsidi diharapkan dapat membantu meredam laju inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Meskipun demikian, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan kebijakan energi dan ekonomi ke depan. Potensi fluktuasi harga minyak dunia dalam jangka panjang tetap menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan fiskal negara, termasuk dalam menentukan alokasi anggaran subsidi energi di masa mendatang.
