Dermatitis atopik, atau yang umum dikenal sebagai eksim, merupakan kondisi peradangan kulit kronis yang ditandai dengan rasa gatal hebat, kulit kering, dan kemerahan. Bagi penderitanya, menjaga kesehatan skin barrier atau lapisan pelindung kulit menjadi kunci utama dalam mengelola gejala dan mencegah kekambuhan.
Skin barrier yang sehat berfungsi sebagai benteng pertahanan kulit terhadap faktor eksternal seperti alergen, iritan, dan mikroorganisme patogen. Pada penderita dermatitis atopik, skin barrier ini seringkali mengalami gangguan atau defek, membuatnya lebih rentan terhadap serangan dari luar.
Menurut dr. Arini Widodo, Sp.KK, spesialis kulit dan kelamin, defisiensi protein penting seperti filaggrin adalah salah satu penyebab utama rusaknya skin barrier pada individu dengan kecenderungan genetik dermatitis atopik. Filaggrin berperan dalam pembentukan stratum korneum, lapisan terluar kulit yang vital untuk menjaga kelembapan dan mencegah masuknya zat asing.
Ketika skin barrier lemah, kulit kehilangan kemampuan untuk mengunci kelembapan secara efektif, menyebabkan kekeringan ekstrem. Kondisi ini, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur dermatologi yang dirujuk oleh organisasi kesehatan seperti National Eczema Association, memicu respons inflamasi yang berujung pada rasa gatal tak tertahankan. Gatal ini kemudian kerap menimbulkan siklus garukan yang semakin memperparah kerusakan kulit dan peradangan.
Selain itu, skin barrier yang terganggu memudahkan masuknya alergen seperti tungau debu, serbuk sari, atau protein makanan tertentu, yang dapat memicu reaksi alergi dan memperburuk gejala dermatitis atopik. Hal ini juga membuka celah bagi bakteri seperti Staphylococcus aureus untuk tumbuh subur, yang seringkali ditemukan pada lesi kulit penderita dermatitis atopik dan berkontribusi pada infeksi sekunder.
Oleh karena itu, penanganan dermatitis atopik tidak hanya berfokus pada meredakan peradangan yang ada, tetapi juga pada restorasi dan pemeliharaan skin barrier. Penggunaan pelembap secara teratur, terutama emolien yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif dan kering, menjadi fondasi penting dalam perawatan sehari-hari. Produk-produk ini membantu memperbaiki fungsi pelindung kulit dan mengurangi kehilangan air transepidermal.
Para ahli dermatologi, termasuk yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), menekankan pentingnya edukasi kepada pasien mengenai cara merawat kulit yang tepat. Menghindari pemicu alergi dan iritan, menggunakan produk perawatan kulit yang lembut (bebas pewangi dan pewarna), serta mandi dengan air hangat suam-suam kuku dan durasi singkat juga merupakan strategi krusial.
Upaya pemulihan skin barrier juga dapat melibatkan penggunaan obat topikal resep dokter, seperti kortikosteroid atau inhibitor kalsineurin, untuk menekan peradangan. Namun, dalam jangka panjang, pemulihan fungsi pelindung alami kulit melalui pelembapan konsisten dan penghindaran pemicu adalah kunci untuk mencapai remisi yang berkelanjutan.
Selanjutnya, para peneliti terus mengeksplorasi terapi inovatif yang menargetkan perbaikan skin barrier secara langsung, termasuk pengembangan formulasi pelembap yang mengandung ceramide, lipid, dan protein yang identik dengan kulit. Perkembangan ini diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi jutaan penderita dermatitis atopik di seluruh dunia untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.
