Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi ancaman serius di berbagai wilayah Indonesia. Seringkali, masyarakat terlena ketika demam pasien mulai menurun, padahal justru di fase inilah kondisi penderita bisa memburuk secara drastis. Memahami tahapan penyakit DBD, terutama fase kritis yang muncul setelah demam mereda, menjadi kunci untuk pencegahan komplikasi dan penyelamatan nyawa.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lonjakan kasus DBD kerap terjadi pada musim hujan atau peralihan musim. Data terbaru dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan kasus di beberapa provinsi. Penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala sekecil apapun dan segera mencari pertolongan medis jika curiga terinfeksi.
Fase demam pada DBD biasanya berlangsung selama 2 hingga 7 hari. Gejala umum yang sering dikenali meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, hingga munculnya ruam. Namun, yang sering terlewatkan adalah bahwa setelah demam turun, tubuh penderita justru memasuki fase paling berbahaya, yaitu fase kritis.
Fase kritis ini umumnya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 sakit. Pada periode ini, suhu tubuh pasien bisa kembali normal atau bahkan turun di bawah normal. Namun, di balik penurunan suhu tersebut, terjadi kebocoran plasma dari pembuluh darah ke rongga tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan syok, pendarahan, hingga kegagalan organ vital jika tidak segera ditangani dengan tepat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Aris Wibowo, menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia bahwa fase kritis ini sering disalahartikan sebagai tanda kesembuhan. βSaat demamnya sudah turun, orang tua atau pasien merasa sudah lebih baik. Padahal, ini justru saatnya kita harus lebih waspada. Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah sakit perut hebat, muntah terus-menerus, gelisah atau lemas, mimisan, gusi berdarah, dan buang air besar berwarna hitam pekat,β ujar dr. Aris.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua penderita DBD akan mengalami fase kritis. Namun, risiko komplikasi dan kematian meningkat tajam jika penanganan terlambat. Pencegahan tetap menjadi garda terdepan, dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus: Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang barang bekas, serta mencegah gigitan nyamuk.
Pihak Dinas Kesehatan di berbagai daerah terus mengimbau masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam program PSN dan melaporkan jika ada anggota keluarga atau tetangga yang menunjukkan gejala DBD. Informasi mengenai penanganan DBD dan pencegahannya juga gencar disebarluaskan melalui kanal komunikasi resmi pemerintah. Dengan kewaspadaan dan pemahaman yang tepat, diharapkan angka kematian akibat DBD dapat ditekan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan kasus DBD di seluruh Indonesia dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk melakukan langkah-langkah pengendalian. Masyarakat diharapkan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika menemukan gejala yang mencurigakan, terutama pada fase setelah demam mereda.
