Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), Tjandra Gunawan, akhirnya buka suara mengenai ambisi perseroan untuk naik kelas ke kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II. Langkah strategis ini diharapkan dapat membuka peluang ekspansi bisnis yang lebih luas dan memperkuat posisi BBYB di industri perbankan digital.
Saat ini, BBYB masih berada dalam kategori BUKU I, yang memiliki batasan modal inti. Kenaikan ke BUKU II mensyaratkan modal inti minimal sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. Tjandra Gunawan menyatakan bahwa BBYB secara konsisten terus berupaya memenuhi persyaratan tersebut, termasuk melalui berbagai strategi penguatan permodalan.
Pertumbuhan pesat yang dicatatkan BBYB dalam beberapa waktu terakhir menjadi indikator kuat bahwa perseroan memiliki prospek yang cerah. Per akhir tahun 2023, BBYB berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 129,23 miliar, sebuah lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih merugi.
Pencapaian laba ini didorong oleh peningkatan kinerja intermediasi, di mana total penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 32,5% menjadi Rp 16,88 triliun pada akhir 2023. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun juga mengalami peningkatan sebesar 23,1% YoY menjadi Rp 17,32 triliun.
Untuk mencapai target BUKU II, BBYB tidak hanya mengandalkan pertumbuhan organik. Perseroan juga terus menjajaki berbagai opsi penguatan modal, termasuk potensi penambahan modal melalui penerbitan saham baru (rights issue) atau kemitraan strategis dengan investor baru. Hal ini menjadi krusial mengingat kebutuhan modal yang terus meningkat seiring ekspansi bisnis.
Tjandra Gunawan menekankan bahwa kenaikan kategori ke BUKU II bukan sekadar angka, melainkan sebuah langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas bank dalam melayani nasabah serta bersaing di pasar yang semakin dinamis. Dengan modal yang lebih besar, BBYB dapat mengembangkan produk dan layanan yang lebih inovatif, serta memperluas jangkauan operasionalnya.
Strategi digitalisasi yang menjadi tulang punggung BBYB diperkirakan akan terus diperkuat. Fokus pada pengalaman pengguna yang mulus, layanan yang cepat, dan fitur-fitur berbasis teknologi canggih akan menjadi kunci dalam menarik dan mempertahankan nasabah, baik ritel maupun korporasi.
Kenaikan ke BUKU II juga akan memberikan BBYB fleksibilitas lebih besar dalam hal regulasi dan eksposur kredit. Bank dengan kategori BUKU yang lebih tinggi umumnya memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam menyalurkan kredit dan berinvestasi, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan aset dan pendapatan bunga.
Dalam jangka panjang, ambisi BBYB untuk naik kelas ke BUKU II menunjukkan komitmen perseroan untuk bertransformasi menjadi salah satu pemain utama di industri perbankan digital Indonesia. Keberhasilan mencapai target ini akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan BBYB dan patut terus dipantau perkembangannya.
