Pegunungan yang diselimuti gletser, meski menawarkan pemandangan menakjubkan, ternyata menyimpan potensi bahaya yang tak terduga. Fenomena alam yang belum banyak dipahami ini dapat memicu bencana tsunami yang berasal dari ketinggian, mengancam permukiman di sekitarnya.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience mengungkap adanya risiko tsunami yang dipicu oleh runtuhnya gletser. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Scott Simpson dari University of British Columbia, Kanada, menganalisis data dari berbagai peristiwa runtuhan gletser di seluruh dunia. Mereka menemukan bahwa runtuhan es berskala besar, yang seringkali terjadi akibat pemanasan global, dapat menciptakan gelombang tsunami yang dahsyat di danau-danau glasial.
Salah satu contoh paling dramatis terjadi pada 9 Agustus 2023 di Danau Fjord di Alaska. Runtuhan gletser yang diperkirakan mencapai 15 juta meter kubik ini memicu gelombang tsunami setinggi 17 meter yang menerjang garis pantai. “Gelombang itu tampak seperti gelombang laut pada umumnya, namun sumbernya berasal dari pegunungan,” ujar Dr. Simpson dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa peristiwa serupa pernah terjadi di Chili pada tahun 2020, di mana runtuhan gletser menciptakan tsunami setinggi 20 meter.
Kajian ini menekankan bahwa ukuran dan kecepatan runtuhan es sangat menentukan ketinggian gelombang tsunami yang dihasilkan. Runtuhan yang lebih besar dan lebih cepat cenderung menciptakan gelombang yang lebih tinggi. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat banyak permukiman manusia yang berada di dekat danau-danau glasial, terutama di wilayah seperti Alaska, Kanada, dan Patagonia.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim global memperbesar risiko ini. Peningkatan suhu udara dan air menyebabkan gletser mencair dan menjadi tidak stabil, sehingga lebih rentan terhadap keruntuhan. “Pemanasan global adalah faktor utama di balik peristiwa ini,” tegas Dr. Simpson. Ia menyerukan perlunya pemantauan yang lebih intensif terhadap gletser dan danau glasial, serta pengembangan sistem peringatan dini untuk melindungi masyarakat yang tinggal di daerah berisiko.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemahaman lebih mendalam mengenai interaksi antara gletser, air, dan daratan. Data yang dikumpulkan mencakup analisis citra satelit, data seismik, dan pengukuran ketinggian gelombang, yang semuanya berkontribusi pada pemodelan dampak tsunami glasial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan mitigasi bencana yang lebih efektif di masa depan, guna mengurangi kerugian akibat fenomena tsunami dari langit ini.
