Mengabaikan perasaan anak dapat menimbulkan dampak psikologis serius yang memengaruhi tumbuh kembang mereka, mulai dari perubahan perilaku menjadi pendiam hingga kesulitan dalam berkonsentrasi. Fenomena ini menjadi perhatian para psikolog dan pendidik, yang menekankan pentingnya validasi emosi anak sebagai fondasi kesehatan mental mereka.
Menurut psikolog anak dari Universitas Indonesia, Dr. Anya Lestari, dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com pada 15 Januari 2024, anak yang perasaannya kerap diremehkan cenderung mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Alih-alih mengekspresikan ketidaknyamanan atau kesedihan, mereka memilih untuk menarik diri dan menjadi pendiam. Perilaku ini, meskipun terlihat pasif, merupakan sinyal adanya luka emosional yang belum terselesaikan.
Lebih lanjut, Dr. Anya menjelaskan bahwa pengalaman emosional yang tidak diakui atau divalidasi oleh orang tua atau pengasuh dapat menyebabkan anak merasa bahwa emosi mereka tidak penting atau bahkan salah. Hal ini berdampak pada pembentukan citra diri yang negatif dan kurangnya kepercayaan diri. ‘Ketika seorang anak terus-menerus diberitahu bahwa tangisannya tidak perlu, atau kekecewaannya berlebihan, ia akan belajar untuk menekan emosi tersebut. Lama-kelamaan, ini bisa mengganggu kemampuan mereka untuk memproses dan mengelola perasaan di kemudian hari,’ ujar Dr. Anya.
Dampak lain yang kerap muncul adalah kesulitan berkonsentrasi. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development pada November 2023 menunjukkan korelasi antara pengalaman emosional negatif yang tidak ditangani dengan baik di masa kanak-kanak dan peningkatan risiko gangguan atensi. Anak yang terus-menerus dihantui rasa cemas atau sedih yang terpendam akan kesulitan memfokuskan pikiran pada tugas-tugas, baik di lingkungan rumah maupun sekolah.
Menurut data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang dirilis pada 10 Desember 2023, kasus anak yang menunjukkan gejala kecemasan dan depresi terus meningkat. Meskipun data spesifik mengenai penyebab utama masih dalam kajian, para ahli sepakat bahwa pola pengasuhan yang tidak responsif terhadap kebutuhan emosional anak menjadi salah satu faktor risiko signifikan.
Penting bagi orang tua dan pengasuh untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi mereka. Ini bukan berarti memanjakan, melainkan mendengarkan dengan empati, memberikan nama pada perasaan yang mereka rasakan, dan membantu mereka menemukan cara yang sehat untuk mengelolanya. Misalnya, jika anak sedih karena mainannya rusak, orang tua dapat mengatakan, ‘Ibu/Ayah tahu kamu sedih karena mainanmu rusak. Memang menyebalkan ya?’ sebelum menawarkan solusi.
Para profesional di bidang kesehatan mental anak juga menekankan perlunya edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya kecerdasan emosional. Workshop dan seminar yang diselenggarakan oleh lembaga seperti Ikatan Psikolog Anak Indonesia (IPAI) secara rutin menyajikan materi tentang cara mengenali dan merespons sinyal emosional anak secara tepat. Jadwal seminar berikutnya dari IPAI dijadwalkan pada 20 Februari 2024, dengan fokus pada membangun ketahanan emosional pada anak usia dini.
