Tuesday, 1 September 2026
BREAKING
Lifestyle

Kentut Berbau Tak Sedap? Waspadai 5 Gangguan Pencernaan Ini, Kata Ahli

Oleh Destian September 1, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Kentut yang berbau tidak sedap seringkali dianggap sebagai hal biasa yang disebabkan oleh makanan tertentu. Namun, menurut para ahli kesehatan, frekuensi dan intensitas bau kentut yang tidak biasa bisa menjadi indikator awal adanya masalah pada sistem pencernaan. Lima kondisi pencernaan ini patut diwaspadai jika Anda sering mengalami kentut berbau busuk.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroentero-hepatologi, dr. Ikhsan, Sp.PD-KGEH, dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia, menjelaskan bahwa bau kentut berasal dari gas yang dihasilkan oleh bakteri dalam usus saat mencerna makanan. Ketika keseimbangan bakteri terganggu atau ada makanan yang tidak tercerna sempurna, produksi gas berbau menyengat bisa meningkat.

Salah satu penyebab umum kentut berbau adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa, gula yang ditemukan dalam produk susu. Bakteri usus kemudian memfermentasi laktosa yang tidak tercerna, menghasilkan gas hidrogen sulfida yang memiliki bau khas telur busuk. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) Amerika Serikat, intoleransi laktosa dapat menyebabkan kembung, diare, dan sakit perut selain kentut berbau.

Gangguan pencernaan lain yang bisa memicu kentut bau adalah sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome/IBS). IBS adalah kelainan fungsional pada usus yang memengaruhi usus besar. Gejalanya bervariasi, termasuk sakit perut, kram, kembung, diare, dan konstipasi. Perubahan pola makan atau stres dapat memperburuk gejala IBS, yang kemudian dapat memengaruhi komposisi gas dalam usus.

Penyakit Celiac juga menjadi salah satu faktor. Ini adalah kondisi autoimun kronis di mana konsumsi gluten (protein yang ditemukan dalam gandum, barley, dan rye) memicu respons imun yang merusak lapisan usus halus. Kerusakan ini mengganggu penyerapan nutrisi dan dapat menyebabkan berbagai masalah pencernaan, termasuk gas berlebih dan bau tidak sedap. Mayo Clinic mencatat bahwa gejala Celiac Disease bisa meliputi kelelahan, penurunan berat badan, dan ruam kulit.

Pertumbuhan bakteri yang berlebihan di usus halus (Small Intestinal Bacterial Overgrowth/SIBO) juga perlu diperhatikan. SIBO terjadi ketika ada jumlah bakteri yang tidak normal atau jenis bakteri yang salah di usus halus. Bakteri ini dapat memfermentasi makanan sebelum sempat diserap, menghasilkan gas yang berbau busuk. SIBO seringkali dikaitkan dengan rasa kembung yang parah dan nyeri perut, seperti yang dilaporkan oleh Cleveland Clinic.

Terakhir, gangguan pencernaan yang lebih serius seperti kanker usus besar, meskipun jarang, juga bisa menyebabkan perubahan pada pola buang angin, termasuk bau yang tidak biasa. Namun, penting untuk diingat bahwa kanker usus besar biasanya disertai dengan gejala lain yang lebih signifikan seperti perubahan kebiasaan buang air besar, darah dalam tinja, penurunan berat badan tanpa sebab, dan kelelahan ekstrem. American Cancer Society menekankan pentingnya pemeriksaan rutin.

Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak mengabaikan perubahan pada pola kentut yang konsisten dan berbau menyengat. Jika disertai gejala pencernaan lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes napas hidrogen atau kolonoskopi, mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi akar masalahnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp