JAKARTA – Aktivitas pendakian di sembilan taman nasional di Indonesia akan ditutup sementara mulai besok, Rabu (1 September 2021). Penutupan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dan mitigasi terhadap potensi bencana alam, terutama banjir dan longsor, yang dipicu oleh peningkatan intensitas curah hujan.
Keputusan ini diambil oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Langkah ini merupakan bagian dari upaya perlindungan terhadap keselamatan para pendaki dan kelestarian ekosistem taman nasional.
Sembilan taman nasional yang memberlakukan penutupan sementara jalur pendakian tersebut adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), Taman Nasional Gunung Ciremai (Jawa Barat), Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Jawa Barat), Taman Nasional Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur), Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Taman Nasional Arjuno Welirang (Jawa Timur), Taman Nasional Rinjani Lombok (Nusa Tenggara Barat), dan Taman Nasional Wasur (Papua).
Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sapto Aji Prabowo, penutupan ini didasarkan pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan potensi peningkatan curah hujan di wilayah pegunungan. Curah hujan yang tinggi dapat memicu terjadinya banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang yang sangat membahayakan keselamatan pendaki.
“Kami tidak ingin mengambil risiko. Keselamatan pengunjung adalah prioritas utama kami. Dengan ditutupnya jalur pendakian, kami berharap dapat meminimalisir potensi kecelakaan akibat bencana alam,” ujar Sapto Aji Prabowo dalam keterangan tertulisnya.
Penutupan ini bukan kali pertama dilakukan. Setiap tahun, terutama saat memasuki musim hujan, pengelola taman nasional secara rutin melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap operasional pendakian demi menjaga keamanan. Data historis seringkali menunjukkan peningkatan insiden terkait cuaca buruk pada periode tersebut.
Meskipun jalur pendakian ditutup, aktivitas lain di dalam kawasan taman nasional yang tidak berisiko tinggi terhadap bencana alam, seperti kunjungan ke area wisata alam non-pendakian yang aman, mungkin masih tetap dibuka dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Namun, informasi detail mengenai hal ini akan bervariasi antar taman nasional.
Para pendaki yang telah merencanakan kegiatan pendakian ke sembilan taman nasional tersebut dihimbau untuk menunda atau membatalkan rencananya. Informasi lebih lanjut mengenai durasi penutupan atau status pembukaan kembali jalur pendakian akan disampaikan oleh masing-masing balai taman nasional melalui kanal informasi resmi mereka.
Masyarakat diharapkan dapat memahami keputusan ini sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan publik dan kelestarian lingkungan. Pantauan cuaca dan kondisi alam akan terus dilakukan secara berkala untuk menentukan kapan jalur pendakian dapat dibuka kembali dengan aman.
