Friday, 21 August 2026
BREAKING
Lifestyle

Beda ISPA dan Iritasi Asap: Kenali Gejala dan Langkah Penanganan di Tengah Polusi Udara

Oleh Destian August 21, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Di tengah meningkatnya kualitas udara yang memburuk di berbagai wilayah, masyarakat kerap dihadapkan pada dua kondisi kesehatan yang mirip namun berbeda: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi akibat paparan asap. Memahami perbedaan gejala dan penyebab kedua kondisi ini menjadi krusial untuk penanganan yang tepat dan pencegahan yang efektif.

ISPA adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri pada saluran pernapasan. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan sesak napas. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, namun anak-anak dan lansia memiliki risiko lebih tinggi.

Sementara itu, iritasi asap lebih merujuk pada reaksi tubuh terhadap partikel-partikel berbahaya yang terkandung dalam asap, seperti pada kebakaran hutan atau polusi kendaraan. Gejala yang muncul biasanya lebih spesifik terkait paparan langsung, seperti mata pedih, hidung tersumbat atau berair, sakit kepala, batuk kering, dan rasa tidak nyaman di dada. Berbeda dengan ISPA yang merupakan infeksi, iritasi asap umumnya bersifat sementara dan akan mereda seiring hilangnya paparan.

Dokter spesialis paru, dr. Agus Dwi Susanto, pernah menjelaskan kepada CNN Indonesia bahwa iritasi asap dapat memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya, seperti asma atau PPOK. Partikel halus dalam asap, seperti PM2.5, dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara rutin memberikan imbauan terkait peningkatan kualitas udara. Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Mohammad Syahril, seringkali menekankan pentingnya mengurangi aktivitas luar ruangan saat indeks kualitas udara memburuk dan menggunakan masker, terutama masker N95, bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar.

Untuk penanganan ISPA, pengobatan berfokus pada meredakan gejala dan mengatasi infeksi. Dokter mungkin meresepkan obat antivirus atau antibiotik, serta obat pereda demam dan batuk. Istirahat yang cukup dan asupan cairan yang memadai juga sangat penting.

Sedangkan untuk iritasi asap, langkah paling efektif adalah menghindari sumber asap. Jika gejala muncul, disarankan untuk segera masuk ke dalam ruangan dengan ventilasi yang baik, mengonsumsi air putih hangat, dan menggunakan obat tetes mata jika mata terasa pedih. Jika gejala tidak membaik atau semakin parah, konsultasi medis tetap dianjurkan.

Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau kualitas udara. Data terkini mengenai indeks kualitas udara dapat diakses melalui situs web atau aplikasi resmi BMKG untuk membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Bagikan: Facebook X WhatsApp