Kalimantan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang parah, menimbulkan asap pekat dan kerugian besar. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, dan kini para peneliti mulai mengungkap akar permasalahannya yang kompleks, melibatkan kombinasi faktor lingkungan, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia.
Menurut berbagai riset dan pernyataan para ahli, penyebab utama kebakaran hutan di Kalimantan sering kali berkaitan erat dengan kondisi iklim yang kering dan mudah terbakar, terutama saat musim kemarau. Namun, faktor ini diperparah oleh praktik pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab, seperti pembakaran untuk membersihkan perkebunan atau lahan pertanian.
Peneliti dari berbagai institusi telah mengidentifikasi bahwa pola cuaca El Nino atau anomali iklim lainnya kerap menjadi pemicu utama meningkatnya risiko kebakaran. Saat musim kemarau tiba, vegetasi menjadi kering dan rentan terhadap api. Namun, tanpa adanya sumber api yang signifikan, kebakaran skala besar sulit terjadi. Di sinilah peran aktivitas manusia menjadi krusial.
Praktik pembakaran lahan, yang secara tradisional sering digunakan oleh masyarakat untuk membuka lahan baru, menjadi salah satu kontributor terbesar. Meskipun ada larangan, metode ini masih kerap digunakan karena dianggap lebih murah dan cepat dibandingkan cara lain. Sayangnya, api yang dimaksudkan untuk lahan kecil sering kali meluas tak terkendali, terutama di lahan gambut yang sangat mudah terbakar.
Lahan gambut di Kalimantan menjadi perhatian khusus. Lapisan gambut yang mengandung bahan organik kering dapat terbakar jauh di dalam tanah, bahkan ketika permukaan tampak basah. Api di lahan gambut sangat sulit dipadamkan dan dapat terus membara selama berbulan-bulan, menghasilkan asap yang sangat tebal dan bertahan lama.
Dampak dari karhutla ini sangat luas. Selain kerugian ekonomi akibat rusaknya hutan dan lahan, kualitas udara memburuk drastis, mengancam kesehatan masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti ISPA. Gangguan aktivitas transportasi udara, terganggunya ekosistem, dan hilangnya keanekaragaman hayati juga menjadi konsekuensi serius.
Upaya penanggulangan terus dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak, mulai dari pemadaman di lapangan oleh tim gabungan, patroli pencegahan, hingga edukasi kepada masyarakat. Namun, solusi jangka panjang yang efektif masih terus dicari, yang mencakup penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran, pengembangan alternatif metode pembukaan lahan yang ramah lingkungan, serta pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan.
Para ahli menekankan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat lokal, hingga sektor swasta, untuk mengatasi akar permasalahan karhutla di Kalimantan secara tuntas. Perubahan pola pikir dan praktik pembukaan lahan yang lebih bertanggung jawab menjadi kunci utama untuk mencegah bencana serupa di masa mendatang.
