Wednesday, 19 August 2026
BREAKING
Ekonomi

Perang dan Ketidakpastian Global, BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia 3% di 2026

Oleh Ishak August 19, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi global akan tumbuh sebesar 3% pada tahun 2026, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian yang dipicu oleh eskalasi perang dan ketegangan geopolitik. Proyeksi ini disampaikan di tengah kekhawatiran terhadap dampak konflik yang berkepanjangan terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Dalam sebuah forum yang membahas prospek ekonomi, Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman, mengungkapkan bahwa berbagai tantangan global, termasuk perlambatan ekonomi di negara-negara maju dan potensi resesi, menjadi pertimbangan utama dalam perumusan proyeksi tersebut. Perang di Ukraina dan ketegangan geopolitik lainnya secara signifikan mengganggu rantai pasok global, meningkatkan volatilitas harga komoditas, dan menciptakan ketidakpastian bagi investor.

Angka 3% ini menunjukkan adanya optimisme yang terukur dari BI, mengingat kondisi global yang dinamis. Pertumbuhan ini diprediksi akan didorong oleh pemulihan di beberapa negara berkembang yang mampu mengelola inflasi dan menjaga stabilitas fiskal. Namun, BI juga menekankan bahwa risiko perlambatan lebih lanjut tetap ada, terutama jika konflik geopolitik semakin meluas atau jika kebijakan moneter ketat di negara-negara maju memberikan dampak yang lebih dalam dari perkiraan.

Sebelumnya, berbagai lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga telah mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang cenderung berhati-hati. IMF, misalnya, beberapa kali merevisi turun proyeksi pertumbuhan globalnya akibat dampak perang dan inflasi yang persisten. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar dan pemerintah di seluruh dunia perlu menyusun strategi mitigasi yang adaptif.

Faktor-faktor yang memengaruhi proyeksi BI antara lain adalah normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang berpotensi menahan laju pertumbuhan, serta ketidakpastian terkait inflasi yang masih menjadi perhatian utama. Di sisi lain, pemulihan sektor pariwisata dan peningkatan konsumsi domestik di beberapa negara diperkirakan akan menjadi penopang pertumbuhan.

BI terus memantau perkembangan ekonomi global secara cermat, termasuk dampak dari kebijakan suku bunga yang agresif oleh bank sentral utama dunia. Kenaikan suku bunga tersebut bertujuan untuk mengendalikan inflasi, namun berisiko memperlambat aktivitas ekonomi dan meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan pemerintah.

Dalam konteks domestik, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia agar dapat menghadapi gejolak eksternal. Kebijakan yang ditempuh mencakup pengendalian inflasi, penguatan nilai tukar Rupiah, serta stimulus kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan kredit dan investasi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% di tahun 2026 oleh BI menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi lanskap ekonomi global yang terus berubah. Keberhasilan dalam mengelola tantangan geopolitik dan ekonomi akan menjadi kunci bagi tercapainya target pertumbuhan yang lebih ambisius di masa mendatang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp