Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang identik dengan lomba-lomba khas 17-an kini menghadapi fenomena unik: permainan tradisional mulai tergeser dari daftar kompetisi. Berbagai faktor, mulai dari perubahan gaya hidup masyarakat hingga minimnya regenerasi, disebut menjadi penyebab utama semakin hilangnya popularitas permainan seperti gobak sodor, bakiak, dan congklak di tengah kemeriahan Agustusan.
Dulu, lomba-lomba permainan tradisional menjadi primadona di setiap lingkungan RT/RW. Anak-anak hingga orang dewasa antusias mengikuti berbagai ajang yang menguji kelincahan, kekompakan, dan strategi. Namun, seiring perkembangan zaman dan dominasi teknologi, minat terhadap permainan tradisional perlahan memudar. Pengamat budaya dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, dalam sebuah diskusi daring yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Agustus 2023, menyatakan keprihatinan atas tren ini.
Menurut Dr. Andi, pergeseran ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga mulai merambah ke pedesaan. Ia menyoroti bagaimana anak-anak kini lebih tertarik pada permainan digital yang tersedia di gawai pintar daripada permainan fisik yang membutuhkan interaksi langsung. “Fenomena ini mengindikasikan adanya perubahan fundamental dalam cara anak-anak dan generasi muda berinteraksi dan mengisi waktu luang mereka,” ujar Dr. Andi.
Beberapa jenis permainan tradisional yang kerap dilombakan dan kini mulai jarang ditemui antara lain gobak sodor, yang memerlukan strategi dan kelincahan tim untuk melewati penjagaan lawan; bakiak, yang menguji kekompakan tim dalam berjalan menggunakan alas kayu panjang; serta congklak, permainan strategi menggunakan biji-bijian di papan berlubang. Permainan balap karung dan tarik tambang masih cukup bertahan, namun ragamnya semakin terbatas.
Pihak Kemendikbudristek sendiri telah berupaya melakukan berbagai program untuk revitalisasi permainan tradisional. Melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, kementerian ini kerap menggelar festival dan kompetisi permainan tradisional di berbagai daerah. Kepala Subdirektorat Warisan Budaya Tak Benda, Ibu Retno Sari, dalam sebuah wawancara dengan media nasional pada Juli 2022, menyampaikan bahwa upaya sosialisasi dan edukasi terus digalakkan di sekolah-sekolah untuk menanamkan kecintaan terhadap permainan warisan leluhur.
Namun, tantangan besar masih dihadapi. Minimnya ruang publik yang memadai untuk memainkan permainan tradisional secara massal, terutama di perkotaan yang padat, menjadi salah satu kendala. Selain itu, kurangnya inisiatif dari panitia lomba 17-an untuk kembali memasukkan permainan-permainan ini ke dalam daftar lomba juga berkontribusi pada semakin hilangnya permainan tersebut dari perayaan kemerdekaan.
Beberapa komunitas pegiat budaya lokal di berbagai daerah mencoba menghidupkan kembali tradisi ini dengan menggelar acara lomba permainan tradisional secara mandiri. Di Yogyakarta, misalnya, komunitas “Jejak Nusantara” rutin mengadakan festival permainan tradisional setiap tahun menjelang Agustus. Ketua komunitas tersebut, Bapak Budi Santoso, menjelaskan bahwa mereka berupaya mengenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan sportivitas yang terkandung dalam permainan tradisional kepada generasi muda.
Menjelang perayaan 17-an tahun ini, masyarakat masih menantikan inisiatif lebih lanjut dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat sendiri, untuk memastikan bahwa permainan tradisional tidak sepenuhnya tenggelam ditelan zaman. Upaya pelestarian yang lebih masif dan inovatif diperlukan agar warisan budaya ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
