Sensasi telinga berdenging atau rasa penuh yang mengganggu saat pesawat lepas landas dan mendarat adalah pengalaman umum bagi banyak penumpang. Fenomena ini, yang dikenal sebagai barotrauma telinga, disebabkan oleh perubahan tekanan udara yang cepat di sekitar telinga, terutama di telinga tengah.
Menurut penjelasan dari berbagai sumber medis dan penerbangan, termasuk Mayo Clinic dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, telinga manusia memiliki saluran yang disebut tuba Eustachius. Saluran ini menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang hidung dan berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara di kedua sisi gendang telinga. Saat tekanan udara di luar tubuh berubah, tuba Eustachius seharusnya terbuka dan tertutup secara otomatis untuk menyamakan tekanan.
Perubahan tekanan yang paling signifikan terjadi selama fase lepas landas dan mendarat pesawat. Saat pesawat naik, tekanan udara di luar berkurang. Jika tuba Eustachius tidak terbuka dengan cukup efektif, tekanan di telinga tengah akan menjadi lebih tinggi daripada di luar, mendorong gendang telinga ke luar dan menyebabkan sensasi penuh atau nyeri. Sebaliknya, saat pesawat turun, tekanan udara di luar meningkat. Jika tuba Eustachius tersumbat, tekanan di telinga tengah akan lebih rendah daripada di luar, menarik gendang telinga ke dalam dan menimbulkan rasa sakit atau berdenging.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya barotrauma telinga. Kondisi seperti pilek, alergi, atau infeksi saluran pernapasan atas dapat menyebabkan pembengkakan pada selaput lendir di sekitar tuba Eustachius, membuatnya lebih sulit untuk terbuka. Hal ini dikonfirmasi oleh Dr. Michael Seto, seorang spesialis THT yang dikutip oleh Harvard Health Publishing, yang menekankan bahwa peradangan dapat menyumbat saluran tersebut.
Untuk mengatasi atau mencegah ketidaknyamanan ini, para ahli merekomendasikan beberapa cara. Menguap, menelan, atau mengunyah permen karet dapat membantu membuka tuba Eustachius selama perubahan tekanan. Manuver Valsalva, yaitu menutup hidung dan mulut lalu mencoba menghembuskan napas perlahan, juga sering disarankan. Namun, manuver ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari cedera.
Bagi anak-anak, yang saluran Eustachiusnya lebih sempit dan horizontal, minum susu atau cairan selama lepas landas dan mendarat dapat membantu. Penggunaan semprotan hidung dekongestan sebelum penerbangan juga bisa dipertimbangkan, terutama bagi mereka yang rentan terhadap masalah telinga, meskipun penggunaannya perlu dikonsultasikan dengan profesional medis.
Dalam kasus yang jarang terjadi, barotrauma telinga yang parah dapat menyebabkan masalah pendengaran sementara atau bahkan kerusakan pada gendang telinga. Jika rasa sakit atau berdenging berlanjut setelah penerbangan, disarankan untuk segera mencari pertolongan medis. Komplikasi seperti infeksi telinga tengah atau bahkan perforasi gendang telinga perlu dievaluasi oleh dokter.
Pihak maskapai penerbangan dan otoritas kesehatan seringkali memberikan saran pencegahan melalui materi informasi di dalam pesawat atau situs web mereka, menekankan pentingnya menjaga saluran tuba Eustachius tetap terbuka selama fase kritis penerbangan. Pemantauan lebih lanjut terhadap efektivitas metode pencegahan pada penumpang dengan kondisi medis tertentu juga menjadi area yang terus diteliti oleh komunitas medis penerbangan.
