Radang usus buntu atau apendisitis merupakan kondisi medis yang umum terjadi, ditandai dengan peradangan pada organ kecil berbentuk jari yang menempel pada usus besar. Gejala khas yang dirasakan tubuh saat mengalami kondisi ini umumnya dimulai dari rasa nyeri di sekitar pusar yang kemudian berpindah ke perut kanan bawah, disertai gejala lain seperti mual, muntah, dan demam.
Menurut penjelasan dari Mayo Clinic, peradangan usus buntu terjadi ketika organ ini tersumbat, seringkali oleh tinja yang mengeras, benda asing, atau bahkan infeksi. Sumbatan ini kemudian memicu pembengkakan dan infeksi pada usus buntu.
Gejala awal radang usus buntu seringkali tidak spesifik. Rasa nyeri yang muncul bisa terasa samar di area perut bagian tengah atau atas, bahkan terkadang menyerupai nyeri akibat gangguan pencernaan lainnya. Namun, seiring waktu, nyeri tersebut cenderung berpindah ke perut bagian kanan bawah dan semakin intens.
Selain nyeri, demam menjadi salah satu indikator penting. Suhu tubuh yang meningkat, biasanya antara 37,5 hingga 38,5 derajat Celsius, menunjukkan adanya respons inflamasi dalam tubuh. Mual dan muntah juga kerap menyertai, sebagai respons tubuh terhadap peradangan yang terjadi.
Gejala lain yang mungkin dialami penderita adalah hilangnya nafsu makan, perubahan pola buang air besar (bisa diare atau justru sulit buang air besar), serta perut yang terasa kembung dan nyeri saat ditekan. Posisi tertentu, seperti meringkuk, terkadang dapat sedikit meredakan rasa sakit.
Penting untuk mengenali gejala-gejala ini karena radang usus buntu adalah kondisi darurat medis. Jika tidak segera ditangani, usus buntu yang meradang dapat pecah, menyebabkan infeksi menyebar ke seluruh rongga perut (peritonitis), yang bisa berakibat fatal.
Penanganan utama untuk radang usus buntu adalah melalui operasi pengangkatan usus buntu (apendektomi). Prosedur ini dapat dilakukan secara terbuka atau laparoskopi. Dokter akan menentukan metode terbaik berdasarkan kondisi pasien.
Pihak rumah sakit umumnya akan melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk tes darah untuk melihat tanda-tanda infeksi, tes urine untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih, serta pencitraan seperti USG atau CT scan perut untuk mengkonfirmasi diagnosis.
