Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyuarakan keprihatinan mendalam terkait masih tingginya angka anak di Indonesia yang belum menerima Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari seluruh anak di Tanah Air belum mendapatkan hak nutrisi esensial ini, sebuah kondisi yang menyoroti berbagai tantangan kompleks dalam upaya promotif dan preventif kesehatan anak.
Menjelang Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli, IDAI kembali mengangkat isu krusial ini ke publik. Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanwarso, Sp.A(K), dalam sebuah kesempatan, menekankan bahwa pencapaian ASI eksklusif merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang optimal anak, termasuk sistem kekebalan tubuh dan kecerdasan.
Angka yang dipublikasikan oleh IDAI ini mengindikasikan bahwa upaya sosialisasi dan dukungan terhadap ibu menyusui masih belum sepenuhnya efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berbagai faktor disebut menjadi hambatan utama, mulai dari kurangnya pengetahuan yang memadai, tekanan sosial dan budaya, hingga ketiadaan dukungan lingkungan kerja yang memadai bagi ibu bekerja.
Salah satu tantangan signifikan yang disoroti adalah anggapan keliru di masyarakat mengenai ASI. Masih ada persepsi bahwa ASI tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, mendorong penggunaan susu formula secara prematur. Padahal, ASI diformulasikan secara alami untuk kebutuhan bayi dan terus berubah seiring pertumbuhan bayi.
Selain itu, ketersediaan fasilitas pendukung seperti ruang laktasi yang layak di tempat kerja dan ruang publik juga menjadi catatan penting. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga besar juga seringkali menjadi beban psikologis bagi ibu yang sedang berjuang untuk memberikan ASI eksklusif.
Dalam berbagai kesempatan, IDAI secara konsisten mengadvokasi kebijakan yang lebih kuat untuk mendukung ibu menyusui. Hal ini termasuk edukasi yang komprehensif sejak masa kehamilan, dukungan pasca persalinan yang berkelanjutan, serta penegakan regulasi yang membatasi promosi susu formula untuk bayi di bawah usia enam bulan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga terus berupaya meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Program-program intervensi seperti konseling menyusui, pembentukan kelompok pendukung ibu menyusui, dan kampanye nasional terus digalakkan. Namun, angka yang masih memprihatinkan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan organisasi profesi seperti IDAI sangatlah krusial.
Menghadapi situasi ini, IDAI berencana untuk terus memperkuat edukasi kepada masyarakat luas, khususnya calon ibu dan ibu pasca melahirkan, serta mendorong para pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Perhatian terhadap isu ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan dan program yang lebih efektif di masa mendatang.
